About

about me
Aku dan Kedua buah hatiku (photo:dok.pribadi)


Kehilangan orang yang kita sayangi untuk selama-lamanya tentu bukanlah sesuatu yang mudah untuk diterima.

6 tahun sudah kami (aku dan kedua buah hatiku) harus berjuang keras untuk bisa menerima kenyataan bahwa kehidupan kami saat ini mungkin tidak senyaman dan semudah dulu,seperti waktu beliau (Almarhum suami ku) masih ada di dunia ini.

Terutama dalam hal ekonomi dan status sosial kami.

Meskipun sebenarnya  aku sudah terbiasa dengan kehidupan yang sulit, tetapi bukan hal yang mudah bagiku ketika tiba-tiba aku harus memikul dua tanggung jawab sekaligus.

Tanggung jawab sebagai seorang Ibu dan sekaligus sebagai bapak(tulang punggung keluarga).

Tetapi aku bersyukur saat itu kami masih ada usaha peninggalan Almarhum suami yang harus aku kelola,untuk menopang kehidupan ku dan anak-anak.

Meskipun pada saat itu aku juga masih belum banyak pengalaman dan pengetahuan di bidang usaha yang selama ini ditekuni Almarhum suami, yaitu usaha jual beli daging sapi,ayam potong dan penggilingan daging (penggilingan bakso).

Jangankan untuk berdagang atau jualan, untuk nyincang ayam atau membersihkan ikan di rumah saja, aku masih minta bantuan suami.

Waktu masih ada Almarhum suami,aku hampir tidak pernah ikut terjun langsung mengelola usaha dan pekerjaan beliau. Suamiku ingin agar aku fokus mengurus anak-anak yang waktu itu masih kecil-kecil sehingga sangat butuh perhatianku, sedangkan suami fokus mencari nafkah dengan di bantu beberapa anak buah.

Bukan berarti aku bergantung sepenuhnya pada Almarhum suami. Karena sebenarnya aku adalah tipe perempuan mandiri, sehingga bagaimana pun caranya aku juga ingin memiliki penghasilan sendiri.

Ya..di sela kesibukanku sebagai seorang Ibu rumah tangga, aku berusaha membantu suami mencari tambahan uang belanja sesuai dengan hobby dan kesukaan ku.

Suami mengijinkan aku membuka usaha terima pesanan aneka macam kue dan katering kecil-kecilan di rumah, dengan catatan anak-anak tidak kurang perhatian ku sedikit pun.

Disinilah aku belajar membagi waktu kapan aku harus mengurus suami dan anak-anak,kapan juga aku harus menyelesaikan kue pesanan customer ku.

Tetapi semenjak beliau jatuh sakit dan harus istirahat total, pelan-pelan aku mulai membatasi terima pesanan kue. Aku mulai belajar bagaimana cara mengelola usaha penggilingan daging kami tersebut,belajar mengenal lingkungan usaha dan pelanggan-pelanggan kami,belajar cara mencari supplier, dan lain sebagainya.

Sebelum berangkat ke pasar dan sepulang dari pasar aku juga tetap berusaha mengurus sendiri keperluan suami dan anak-anak, sedangkan untuk pekerjaan rumah yang lain aku mengambil karyawan untuk bekerja paruh waktu di rumahku.

Dalam kondisi sakit dan lemah suamiku juga masih ikut menghandle atau memantau usaha kami dari rumah,seolah lebih mengkhawatirkan aku daripada kondisinya sendiri. Karena suamiku tahu betul bahwa aku seorang introvert yang tidak biasa menghadapi orang banyak.

Beliau sangat paham bahwa tempat-tempat yang penuh kerumunan orang (mis.pasar) adalah tempat yang sangat tidak nyaman buat ku. 

Oleh sebab itu beliau selalu berkomunikasi saat aku sedang di pasar. Selalu bertanya apakah ada kendala dan kesulitan menghadapi para pelanggan. Begitulah kami menjalani masa-masa sulit kami, tetapi kami tetap berusaha membuat keadaan tetap berjalan normal seolah semuanya tetap baik-baik saja. 

26 September 2015, Akhirnya Tuhan memanggil nya pulang ke surga. Beliau meninggalkan kami untuk selamanya, selama 7 bulan beliau bergumul melawan penyakitnya, dan setelah 4 hari mengalami masa kritis melawan kanker hati atau sirosis hati yang akhirnya  merenggut nyawanya.

Beliau meninggalkan kami disaat kondisi perekonomian di tempat kami tinggal sedang mengalami krisis,banyak perusahaan tambang (batu bara) yang tutup dan gulung tikar, sehingga berimbas juga pada kondisi usaha kami.Daya beli masyarakat yang menurun,menyebabkan usaha kami juga mengalami penurunan omset,sehingga lama kelamaan kondisi keuangan usaha kami juga kurang stabil. 

Apalagi usaha dagang kami saat itu berdiri dan berkembang di atas pondasi "hutang (pinjam modal usaha dari bank)."

Kepergian beliau yang secepat itu,sungguh tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Dan ternyata benar-benar tidak mudah ketika tiba-tiba Tuhan memberi sebuah ujian sekaligus memberikan sebuah tantangan untuk bisa melanjutkan dan mempertahankan sebuah usaha tanpa pengalaman sebelumnya.

Tiba-tiba aku dituntut untuk berjalan sendiri, berpikir sendiri, mengambil keputusan sendiri,bekerja,mengurus usaha dan mendidik anak-anak sendiri.

Disinilah terkadang aku merasa bingung, sedih,harus bagaimana,harus mulai dari mana,harus bicara dan bertanya pada siapa?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lah yang kerap kali menghiasi pikiran ku,saat pertama kali harus menjalani semuanya sendiri.

Tapi..di tengah kesulitan, kesesakan dan kelelahan,aku berusaha untuk selalu bersyukur.Tuhan masih menitipkan dua malaikat kecilku yang sangat mengerti dan memahami ku.Semenjak kepergian bapaknya mereka hampir tak pernah rewel,tak pernah menuntut ini itu,dan selalu berusaha mandiri.

Seolah mereka yang waktu itu,si Kakak kelas 4 SD dan si Adek yang masih kelas 2 SD berusaha untuk mengerti dan memahami situasi ini.

Bahwa ibunya kini lebih sibuk dan tidak punya banyak waktu untuk mengurus semua keperluan mereka seperti sebelumnya.

Tak hanya itu,Tuhan juga selalu berikan kesehatan dan kekuatan yang luar biasa kepada kami. Terutama anak-anak, yang biasanya dalam satu bulan ada saja yang harus di bawa ke dokter gara-gara sakit.Tetapi...Puji Tuhan mereka kini lebih kuat,jarang sakit dan selalu ceria,bahkan mereka tahu harus bagaimana ketika tanpa sengaja mereka melihatku sedih atau menangis dalam diam.

Kenakalan atau kerewelan mereka selama ini masih sebatas kenakalan yang wajar.

Merekalah yang menjadi alasan dan semangat ku untuk terus berjuang,meski ini kedengarannya sangat klise tetapi memang demikianlah adanya.

Mungkin.... seandainya waktu itu aku masih seorang single atau lajang,aku bisa saja menjalani hidup dengan mudah dan santai, apalagi sebenarnya aku adalah tipe orang yang sederhana,berusaha hidup cukup dengan apa yang aku punya. 

Berpakaian dan berdandan seadanya,makan minum seadanya, intinya aku berusaha hidup sesederhana mungkin.

Tetapi dengan kondisi saat ini,aku gak mungkin hidup santai atau berpikir sederhana, karena hidupku sekarang bukan tentang aku sendiri, ada mereka,dua malaikat kecilku,yang pastinya sangat tergantung kepada ku.

Karena aku adalah orangtuanya,aku Ibu sekaligus Bapaknya,bahkan aku juga harus bisa jadi teman dan sahabat bagi mereka.

Sehingga apapun yang terjadi aku harus berusaha keras untuk bisa mewujudkan harapan anak-anak ku kepada ku, untuk bisa memberikan yang terbaik buat mereka.

Photo : dokumen pribadi


Empat tahun lamanya,dengan susah payah dan jatuh bangun aku berusaha menjalankan dan mempertahankan usaha kami. Dengan segenap hati dan pikiran aku berjuang bagaimana usaha ini bisa tetap berjalan dan kembali stabil.

Karena dari usaha ini aku, anak-anak ku dan beberapa karyawan kami menggantungkan hidupnya disini.begitu banyak kisah suka dan duka yang menghiasi setiap fase perjalanan hidup kami.

Hingga akhirnya...Mei 2019 yang lalu aku terjatuh,usaha kami ditimpa musibah yang bertubi-tubi,hutang usaha kami makin membengkak. Waktu itu jumlahnya hampir mencapai  600jt rupiah, inilah yang menjadi penyebab utama kebangkrutan kami. 

Semua aset usaha maupun aset pribadi habis terjual untuk menyelesaikan hutang-hutang usaha kami.Hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali nyawa kami bertiga.

Dalam keadaan minus, dan berada di titik nol,aku memutuskan untuk membawa anak-anak pulang ke kampung halaman,dengan harapan ingin memulai lagi lembaran baru cerita hidup kami,ingin hidup tenang tanpa dikejar-kejar hutang,

Pulang kampung dengan kondisi finansial dan ekonomi yang sangat kurang bagus membuat kami merasa INSECURE,trauma,kurang percaya diri dan takut setiap kali akan memulai usaha atau pekerjaan yang baru.

Apalagi hidup di kampung halaman sendiri dengan keadaan seperti ini kami merasa lebih sulit untuk "di terima" oleh keluarga,teman maupun tetangga.

Waktu kami masih "berada", mereka selalu terbuka dan dekat dengan kami.Tetapi dengan kondisi terpuruk dan susah seperti ini,seolah semuanya menjauh bahkan berusaha menghilang dari kehidupan kami.

Hanya tersisa beberapa saja yang masih peduli dan mengerti keadaan kami

Tetapi aku sadar, aku gak bisa terus menerus terpuruk dengan keadaan ini. Apapun pandangan orang terhadap kami aku harus segera bangkit dari keterpurukan ini.

Lagi-lagi hanya anak-anak lah yang menjadi alasan buatku untuk segera bangkit berdiri.

Lalu aku memutuskan untuk merantau dan bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Surabaya.Karena tanpa modal yang cukup,sulit rasanya untuk membuka usaha di kampung, sementara kebutuhan hidup terus berjalan,sehingga aku berpikir mungkin inilah pilihan terbaik untuk saat itu.

Karena aku dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu, bekerja menjadi ART atau pembantu rumah tangga bukanlah hal yang berat atau asing bagiku, tetapi terasa sangat berat ketika aku harus berpisah dengan anak-anak untuk jangka waktu yang lama.

Ini adalah peristiwa pertama bagi kami, anak-anak tinggal bersama kakek neneknya sedangkan aku harus mencari nafkah di Surabaya.

Puji Tuhan di Surabaya aku dipertemukan dengan majikan yang baik, pekerjaan yang baik dan gaji yang layak.Kenapa aku katakan pekerjaan yang baik,karena pekerjaan disini adalah pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan passion ku.

Majikan tempat ku bekerja adalah pemilik usaha terima pesanan dummy cake dan jasa  EO (Event Organizer) Birthday Party.Disini,selain bekerja sebagai ART,aku juga mendapat kepercayaan untuk membantu dekorasi kue dan membantu tim dekorasi EO tersebut.

Sebuah pekerjaan yang sebenarnya juga tidak terlalu asing bagiku, karena selain menyukai hal-hal yang berbau seni,aku juga punya pengalaman menghias kue.

Sehingga aku tidak mengalami hambatan atau kendala yang berarti soal pekerjaan.

Majikanku pun juga memperlakukan aku dengan baik, kebetulan kami seiman,satu hobby dan satu visi misi dalam hal pekerjaan,sehingga hubungan kami sebagai asisten dan majikan sangat nyambung, dan sama sekali tidak terkesan kaku.

Bahkan beliau sering memberiku semangat setelah aku ceritakan tentang perjalanan hidup ku hingga sampai bekerja dengan beliau. Kami sering beribadah sama-sama. Beliau juga selalu memberikan reward setiap kali aku berhasil membantu menyelesaikan proyek beliau dengan baik.

Entah berupa bonus gaji tambahan maupun dispensasi cuti bulanan agar aku bisa pulang kampung barang sehari dua hari untuk melepas rindu bertemu anak-anakku.

Tetapi sayang hanya tiga bulan aku bekerja dengan beliau,aku terpaksa berhenti dari pekerjaan ini, karena mendapat kabar bahwa Ibu ku tercinta jatuh sakit dan mengalami kelumpuhan, sehingga harus mendapat perhatian dan perawatan ekstra.

Aku tahu hanya aku yang bisa melakukan itu,karena di antara kelima saudara ku,saat itu hanya aku yang dekat dengan Ibu,bukan dekat secara fisik saja tetapi juga secara psikologis.

Sehingga dengan berat hati aku pamit mengundurkan diri dari pekerjaan ku di Surabaya dan memutuskan untuk fokus menjaga dan merawat Ibu.

Kurang lebih Tujuh bulan lamanya aku tidak bekerja (mencari nafkah) ,Karena kondisi Ibu yang lumpuh dan psikis yang kadang tidak stabil membuat aku benar-benar hanya fokus merawat Ibu.

Tetapi Puji Tuhan,sekali lagi ditengah kondisi finansial dan ekonomi yang masih kurang baik,ada saja rejeki buat Ibu dan anak-anak ku,apa yang kami makan minum dan pakai(seperti Diapers dan obat-obatan Ibu) semua Tuhan sediakan dan cukupkan tanpa satu kekurangan yang berarti.

Entah dari mana datangnya semua itu, yang jelas aku percaya tangan Tuhan tidak  kurang panjang untuk menopang kehidupan kami.

Hingga akhirnya pada 22 Juli 2020 Tuhan memanggil Ibu untuk berpulang.Sungguh sebuah pukulan yang hebat buatku dan anak-anak ku.Ibu adalah sosok wanita yang sempurna bagiku, teladan kebanggaan ku,belahan jiwa ku, ketika aku terjatuh,Ibu adalah sosok yang selama ini selalu ada buatku tetapi mengapa Tuhan begitu cepat memanggil nya.

Aku benar-benar terpukul, rasa sedihku saat kehilangan suami belum hilang,kini aku kembali harus merasakan sedihnya kehilangan seorang Ibu. Aku merasa belum puas merawat beliau,belum bisa membahagiakan beliau di sepanjang hidupnya. Tetapi harus secepat ini aku harus merelakan Ibu pergi .

Waktu terus berputar kehidupan pun terus berjalan, aku gak boleh berduka terlalu lama,aku harus kembali menyusun rencana,kembali melanjutkan episode perjalanan hidup selanjutnya.

Kembali aku harus menerima apapun yang Tuhan berikan kepada kami, berusaha kuat, ikhlas dan sabar menjalani  apapun rancangan Tuhan buat kami.

Lalu aku memutuskan untuk tetap disini, menyusun rencana bagaimana agar bisa mencari nafkah tanpa harus meninggalkan anak-anak lagi. Karena sepeninggal Ibu,aku tidak mungkin meninggalkan Bapak dan anak-anak untuk jangka waktu yang lama.

Akhirnya dengan modal seadanya,aku membuka usaha warung sembako kecil-kecilan,sambil kembali ingin fokus mengelola blog dan channel YouTube yang sudah terbengkalai kurang lebih 6 bln lamanya (waktu itu).

Ya aku memang hobby sekali menulis dan mengedit foto atau video.Meskipun hanya dengan bermodalkan smartphone kentang waktu itu,tapi aku terus semangat untuk mengasah bakat dan kemampuan ku.

Selain ingin menyalurkan hobby dan pengisi waktu luang,aku ingin menjadikan blog dan channel YouTube ku sebagai tempat untuk belajar dan berbagi informasi serta pengalaman-pengalaman ku.

Sukur-sukur jika bisa menghasilkan cuan.Tentu ini akan membuat ku lebih semangat lagi dalam mengelola kedua situs tersebut.

Apa yang aku tahu,apa yang aku alami dan apa yang aku belum tahu pun aku coba menuangkannya ke dalam sebuah tulisan dan gambar atau foto di blog ini,dan menuangkan nya dalam bentuk audio dan visual menjadi konten video di Channel YouTube ku.

Meskipun sudah hampir satu tahun berjalan, tapi blog dan channel YouTube ku masih belum ada perkembangan yang berarti,konten video maupun artikel yang aku buat baru beberapa biji.

Ini bukan karena aku gak fokus atau kehilangan konsistensi, tetapi karena ada harus aku prioritaskan.

Artinya mengejar cuan melalui situs blog dan YouTube bukan sesuatu yang mudah dan bisa di capai dengan instan,butuh skill, pengalaman dan perlengkapan yang memadai.Tidak cukup hanya bermodalkan niat dan kemauan saja. Harus punya skill dan perlengkapan yang memadai juga.

Sedangkan hidup harus terus berjalan, anak-anak butuh sekolah,makan dan penghidupan yang layak.Aku harus memprioritaskan kondisi finansial dan arus kas yang stabil untuk mencukupi kebutuhan keluarga kecilku daripada mengejar intuisiku tanpa modal skill yang mumpuni.

Aku ingin antara intuisi dan reality bisa berjalan seimbang.Agar tidak dianggap mimpi di siang bolong atau terlalu sibuk berhalusinasi.

Intinya aku harus tetap realistis.

Siang hari aku habiskan untuk mengelola kios sembako ku,sambil berjualan aneka cemilan,ini caraku agar setiap hari ada pendapatan,sdgkan pada malam hari aku pergunakan untuk belajar sekaligus mengelola situs blog dan YouTube ku bagaimana agar bisa menghasilkan cuan.

Intinya aku tidak ingin ada waktu yang terbuang,setiap waktu bagiku sangat berharga. Aku benar-benar berusaha dengan keras. Aku ingin menunjukkan kepada mereka yang selama ini menilai aku adalah seorang pemalas.

Sering aku mendengar baik secara langsung maupun tidak langsung,bahwa kegagalan ku selama ini akibat dari perilaku malas ku.

Rasanya jengkel campur sedih mendengar komentar seperti itu, tetapi sekali lagi aku gak boleh terlalu baper dengan omongan dan penilaian orang tentang aku, apapun itu aku harus terus berjuang.

Aku benar-benar ingin menikmati proses dari rencana-rencana besar Tuhan dalam hidupku dan anak-anak ku. Aku percaya Tuhan tidak akan membiarkan kehidupan kami selama nya akan terpuruk seperti ini.

Aku benar-benar ingin fokus untuk belajar bagaimana caranya mendapatkan penghasilan dari blog,dari channel YouTube dan akun-akun digital atau sosial mediaku.

Sebenarnya ada saja cara yang instan untuk meraih semua itu,dan tidak ada yang gratis untuk bisa sukses dan kaya 

Sekali lagi, untuk mewujudkan semua impian itu tidaklah mudah,butuh kesabaran,apapun hasilnya yang penting aku coba jalani dulu, berusaha dulu, hingga kesuksesan itu ada di genggaman tanganku.

Kalau berhasil dalam waktu singkat tentu aku bersyukur, tetapi jika berjalan lambat ya harus bersabar dan kita nikmati saja prosesnya,itung-itung buat investasi jangka panjang.

Aku selalu yakin dan percaya bahwa apa yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh hari ini,akan bisa kita nikmati bersama anak dan cucu ku nanti.Tentunya....jika Tuhan mengijinkan.

Inilah kisahku, yang ingin aku bagikan kepada kalian yang saat ini sedang berjuang. Sedang bosan atau lelah menunggu datangnya keberhasilan. Kalian tidak sendirian,bersabarlah... semua ada waktunya.

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini, dan berkenan  membaca tentang aku sekelumit perjalanan hidup ku. Semoga bermanfaat dan menginspirasi kalian semua.

Semangat berkarya n jangan pernah putus berdoa ya..😇🙏🏻




 





4 Komentar

  1. You are the Best

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung,belum bisa jadi terbaik,tetapi selalu berusaha memberikan yang terbaik

      Hapus
  2. Balasan
    1. Siappp...Mbk...terima kasih sudah hadir disini

      Hapus