Puisi,Salah Satu Cara Curhat yang Melegakan

Foto: koleksi pribadi



Sepenggal Kisah

Sepenggal kisah....

Kisah yg hanya sepenggal
Kisah terakhir dan yang sudah berakhir
Walau hanya sepenggal dan telah berakhir 
Kisah itu telah menjadi sebuah KENANGAN
        
Kenangan indah 
Kenangan tidak indah
Kenangan manis
Kenangan tidak manis
Kenangan bahagia
Kenangan tidak bahagia
Semuanya telah menjadi...
KENANGAN tak TERLUPAKAN


Sepenggal kenangan
Kini telah terlepas
Terlepas bersama alur sepenggal kisah
Semua akan terlepas
Bahagia atau derita
Yang utuh dan Yang tidak utuh 
Semua pasti TERLEPAS


Airmata dan ratapan tiada arti
Keluh kesah tiada guna lagi
Harapan dan keyakinan harus di mulai
Sepenggal kisah ini bukan inginku

Pun bukan pilihan ku

Dalam hening dan senyap
Jauh di sudut ruang gelap
Terucap...satu harap....
Sepenggal kisah ini kelak akan kembali utuh
Dalam rahmat dan keabadian Nya

Puisi oleh: Yohana Gunarti

Puisi adalah Salah Satu Hobi

Penggalan puisi di atas adalah puisi yang aku tulis dalam rangka mengenang 1000 hari kepergian almarhum suamiku tercinta.

Entahlah kenapa pada momen itu tiba-tiba ingin membuat sebuah puisi,setelah sekian lama vacum dari dunia tulis menulis

Sebenarnya aku sangat suka menulis,salah satunya menulis puisi.Dan ini adalah hobiku dari kecil kalau kebetulan sedang ada waktu senggang. Tidak da tugas sekolah maupun tugas rumas yang harus aku kerjakan.

Selain itu,dari kecil aku juga lebih suka suka menyendiri dan berimajinasi, apalagi aku juga punya kebiasaan sulit untuk memulai tidur (Insomnia) sehingga membaca,menulis,melukis dan mendengarkan musik adalah teman yang menyenangkan bagiku saat itu. Salah satunya menulis puisi. 

Meskipun sebagian besar karya-karya ku itu hanya sebatas untuk koleksi pribadi saja,artinya jarang sekali aku mempublikasikan  karya-karya seniku di khalayak ramai,seperti puisi-puisiku,kecuali ada beberapa teman yang minta di buatkan lukisan atau sketsa wajah mereka.

Hingga akhirnya saat aku sudah menikah dan membina kehidupan rumah tangga,sebagian besar waktuku tercurah untuk mengurus rumah tangga,mengurus anak-anak dan suami. Sehingga waktu untuk melakukan hobi dan kesukaan ku menulis jadi sedikit terlupakan.Namun sempat tergantikan dengan hobi baruku yaitu memasak,membuat dan menghias kue. 

Kok...kayaknya jauh melenceng dari kiblat hobi yang sebelumnya ya? Hmmm....jangan salah...ya,karena memasak dan membuat kue lalu menghiasnya itu butuh jiwa seni dan imajinasi yang tinggi juga lho, apalagi kalau untuk tujuan komersil atau untuk di jual,agar laku di pasaran tentu harus ada nilai estetika nya atau nilai seni nya bukan?

Puisi Sebagai media  Curhat yang Melegakan 

Sejak menikah dan sibuk menjadi ibu rumah tangga,aku memang sudah jarang bahkan hampir tidak pernah menulis puisi.

Kehadiran duo bocil yang jarak usianya hampir berdekatan,membuat  hari-hari yang aku jalani amat sangat rempong sekali,boro-boro mikir nulis atau bikin puisi,mau nyisir rambut sendiri aja kadang gak sempat,hehe...

Atau mungkin juga kebawa passion suami yang cenderung menyukai dunia bisnis ketimbang dunia seni, meskipun sebenarnya suami bukanlah tipe laki-laki yang suka melarang-larang  apapun yang saya lakukan,sepanjang itu masih bersifat positif,beliau selalu memberi dukungan penuh.

Hanya sesekali saja membaca koleksi buku-buku lama,atau buku yang baru aku beli. Itupun butuh waktu yang amat sangat senggang sekali.

Namun keinginanku untuk menulis sebenarnya tidak pernah surut.Karena menurutku menulis adalah cara paling elegan dan bebas untuk mencurahkan segala suasana hati atau menyampaikan bentuk protes dan pemberontakan kita melawan kondisi sekeliling yang seringkali tidak senada dan seirama dengan pemikiran dan suara hati kita.

Dan bagiku,puisi adalah salah satu bentuk karya tulisan yang sangat sederhana,elegan dan  "melegakan".Ketika sudah bergelut dengan indahnya rangkaian kata suka-suka kita,saat itu juga segala rasa sedih,gelisah,dan kecewa dengan keadaan pun bisa tercurahkan dengan leluasa. Bahkan,rasa bahagia dan berbunga-bunga akan lebih indah ketika kita menuangkannya dalam sebuah puisi.

Apalagi aku tipe orang yang lebih suka menyendiri dan tidak begitu pandai memilih teman bicara atau curhat,akhirnya menulis puisi adalah salah satu cara paling indah dan melegakan untuk sambat atau curhat. 

Bagaimana Cara menulis Puisi?

Bicara tentang puisi,aku sendiri gak pernah berpegang pada pakem atau aliran tertentu. Apalagi aku juga tidak begitu paham tentang bahasa sastra.

Semuanya aku buat dengan bahasa yang bebas,sederhana dan mengalir begitu saja, karena aku menulis  puisi juga di saat ada sesuatu yang  mengusik jiwa atau sisi batiniah ku. Sehingga bahsa puisi yang aku buat juga lebih cenderung sederhana,apa adanya dan mudah di pahami siapa saja yang membacanya.

Seperti jenis karya tulisan yang lain,buatlah puisi sesuai dengan pesan atau makna apa yang ingin kita sampaikan. Bait,sajak dan alurnya juga buatlah sebebas mungkin sesuai gaya bahasa atau karakter kita.

Contohnya seperti penggalan puisi di atas,bercerita tentang kehilangan dan keikhlasan.
Dua hal yang merupakan hubungan sebab akibat yang mudah dipahami tetapi seringkali sulit untuk dilakukan atau diterapkan dalam realita kehidupan kita sehari hari.

Persis seperti yang aku rasakan saat itu,saat di mana aku telah kehilangan sosok almarhum suami yang aku sayangi untuk selama-lamanya.

Untuk benar-benar mengikhlaskan saat kita kehilangan adalah satu hal yang tidak mudah apalagi mengikhlaskan kepergian orang yang kita sayangi. Tetapi kita harus mengerti bahwa apapun kisah yang pernah kita lalui bersama orang yang kita sayangi tidak akan pernah ada yang berakhir utuh atau happy ending seperti harapan kita,atau seperti kisah sebuah episode cerita didalam film atau sinetron. 

Jadi,pesan yang ingin aku sampaikan melalui puisi di atas adalah bahwa kisah perjalanan hidup kita dengan orang-orang yang kita sayangi (orang tua,pasangan,anak,saudara atau sahabat kita),hanyalah sepenggal kisah yang mau tidak mau,kita harus mau,harus mampu melepaskan dan merelakan ketika Tuhan sudah berkehendak: semua harus berakhir. 

Kesimpulan

Dengan bahasa yang sederhana dan tidak terlalu puitis (menurutku).
Puisi tersebut sudah pasti mudah dipahami dan dimengerti oleh siapapun yang membacanya.

Soal puisi itu memiliki sisi komersial atau daya jual sehingga layak di pamerkan atau di publikasikan  dan tidak layak itu semua  tergantung penilaian pembaca.

Karena memang tujuanku berpuisi hanyalah untuk mengungkapkan apa yang sedang aku rasakan.
Dan seperti yang aku sampaikan diatas bahwa aku sendiri tidak begitu mengerti banyak tentang sastra,sehingga wajar bila puisi yang aku buat atau aku tulis terkesan "biasa saja".

Terkadang,naluri seorang seniman lebih mengutamakan karya daripada uang atau komersialitas. Yang penting berkarya dan berkarya.

Dan  terbukti banyak juga seniman puisi yang bisa "makan dan hidup"  dari puisi. Sebut saja WS Rendra,Perishandi Huizche,Joko Pinurbo,Sapardi Joko Damono,dan masih banyak lagi.

Melalui tulisan ini, aku juga ingin sampaikan bahwa puisi merupakan salah satu media yang pas untuk mengekspresikan atau mengungkapkan segala rasa maupun uneg-uneg.

Jadi jika kalian punya uneg-uneg tetapi malu untuk curhat atau sambat dengan seseorang,
Cobalah untuk membuat sebaris puisi,mungkin ini bisa sedikit melegakan.

Owh iya...siapa tau dengan membaca tulisan ini akhirnya Anda tertarik untuk membuat sebuah puisi,sehingga secara tidak sengaja Anda sudah ikut mendorong tumbuh dan berkembangnya kasanah sastra dan budaya literasi Indonesia yang hampir langka.

Mari berpuisi,Salam satu hobi...


3 Komentar

  1. terimakasih Mbak Gunarti sudah kunjung di www.elcoida.com sukses semangat nulisnya

    BalasHapus